Senin, 02 Mei 2016



1.       Rewang







Rewang ialah kegiatan membantu tetangga / saudara yang mempunyai hajat. Di tempat tinggal saya kegiatan ini masih dilakukan , seperti waktu ada pernikahan atau orang meninggal dan tidak memandang siapa orang tersebut dan apa jabatannya dalam tempat tinggal saya. Kegiatan ini berkaitan dengan pancasila, sila ke 5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain. Butir ini sebenarnya mengembangkan sikap dan budaya bangsa yang saling tolong-menolong seperti gotong royong, dan menjahukan diri dari sikap egois dan individualistis..
 

2.       Bowoh / Ngamplop







Bowoh / ngamplop adalah kegiatan memberikan uang yang dimasukan kedalam amplop untuk keperluan pernikahan / hajat yang dilakukan oleh para undangan kepada orang yang mempunyai hajat. Kegiatan macam ini sesuai dengan pancasila sila ke 3. Mengembangkan sikap tenggang rasa. Sikap ini menghendaki adanya usaha dan kemauan dari setiap manusia Indonesia untuk menghargai dan menghormati perasaan orang lain.Harusnya dalam bertingkah laku baik lisan maupun perbuatan kepada orang lain, hendaknya diukur dengan diri kita sendiri.

3.       Yasinan







Kegiatan ini masih berlaku di tempat asal saya. Setiap ada yang meninggal dan merupakan kegiatan rutin setiap hasi selasa yang dilakukan oleh ibu-ibu warga ditempat tinggal saya. Yasinan berkaitan dengan pancasila, sila ke 1 yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah sesuai agamanya, ditempat asal saya agama Indonesia menjadi agama yang mayoritas sehingga dengan dilaksakannya kegiatan ini lebih meningkatkan ibadah membaca Al Qur’an meskipun hanya surat yasin saja.


Jumat, 22 April 2016



ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DAN KONSTEKSTUALISME

A.    FILSAFAT KONSTRUKTIVISME
1.      Pengertian Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994). Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang berkonstruksi dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya.
            Berbicara tentang konstrukstivisme tidak dapat lepas dari peran Piaget J. Piaget. Piaget adalah  orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. . Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Seperti setiap organisme selalu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat mempertahankan dan memperkembangkan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Berhadapan dengan pengalaman, tantangan, gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai seseorang ditantang untuk menanggapinya. Dan dalam menanggapi pengalaman-pengalaman baru itu skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah total. Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik pengalaman fisis maupun pengalaman mental.
2.      Jenis-jenis Konstruktivisme
Von Glasersfeld membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme :
·      Konstruktivisme radikal
Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka tidak dapat ditransfer kepada penerima yang pasif. Penerima sendiri yang harus mengkontruksi pengetahuan itu. Semua yang lain, entah objek maupun lingkungan, hanyalah sarana untuk terjadinya konstruksi tersebut.
·         Realisme Hipotesis
Pengetahuan dipandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataandan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas (Manuvar, 1981 dalam Bettencourt, 1989).
·         Konstrutivisme yang Biasa
Aliran ini tidak mengambil semua konsekuensi konstruktivisme. Menurut aliran ini pengetahuan merupakan gamaran dari realitas. Pengetahun dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.
3.      Hubungan Konstruktivisme dengan Beberapa Teori  Belajar
·         Teori Perubahan Konsep
             Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori perubahan konsep dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme.  Konstruktivisme, yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar, dan teori perubahan konsep yang menjelaskan, bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus menerus sangat berperan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari.  Konstruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa pengetahuan yang tidak tepat. Dengan demikian, seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan siswa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat.
·         Teori Belajar Menurut Ausubel
Teori belajar bermakna Ausuabel ini sangat dekat dengan inti pokok konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam system pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsepatau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
·         Teori Skema
Teori skema lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita itu tersusun dalam suatu skema yang terletak dalam ingatan kita. Dalam belajar  kita dapat menambah atau mengubah skema yang ada sehingga dapat menjadi lebih luas dan berkembang.
4.      Pengaruh Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan
Sebenarnya prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip itu berperan sebagai referensi dan alat refleksi kritis terhadap praktek, pembaruan dan perencanaan pendidikan sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang diambil dari konstruktivisme adalah :
a. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif.
b. Tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik.
c. Mengajar adalah membantu peserta didik belajar.
d. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil.
e. Kurikulum menekankan partisipasi peserta didik.
f. Guru adalah fasilitator.
        Berkaitan dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Indonesia yang memberikan kewenangan kepada sekolah dan para guru untuk menyusun sendiri kurikulum pembelajaran yang akan dijalankan, prinsip-prinsip konstruktivisme tentu dapat menjadi roh dari setiap silabus yang disusunnya. Hal yang tetap harus diperhatikan adalah kesiapan lingkungan belajar, baik pendidik, lingkungan, sarana prasarana dan pendukung lainnya. Jika hal-hal tersebut tidak dipersiapkan dengan baik, bisa jadi terjadi hal-hal yang melenceng dari harapan. Karena peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksinya tidak sesuai dengan hasil konstruksi para ilmuwan, maka muncullah salah pengertian atau konsep alternative. Dalam hal seperti ini diperlukan penelusuran dan penelitian untuk menemukan permasalahan dan mengatasinya.






B.     KONTEKSTUALISME

Konteks sebagai kata dasar kontekstualisme yang juga kata serapan, diartikan di kamus sebagai bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna, situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.  Sedangkan kontekstualisme itu sendiri dimaknai sebagai, aliran yang menyelidiki makna dalam bahasa dengan metode probabilitas dan memusatkan diri pada distribusi formal bentuk bahasa, ujaran, dan hubungan antaran ujaran atau wacana dan lingkungan fisik dan sosial.
Kontekstualisme dalam epistemologis adalah suatu paham dalam filsafat pengetahuan. Paham ini beranggapan bahwa kebenaran dari sebuah pernyataan tergantung dari konteks mana dia dinyatakan. Sifat kontekstual tidak mutlak karena sangat tergantung pada subjek yang melihat, situasi dan kondisi saat ini. Kontekstualisme dalam pengetahuan merupakan argumen yang baik untuk menghadang argumen skeptis.
Pertama kita harus mengenal mengenai skeptisisme. Skeptisisme filosofis adalah pendekatan keseluruhan yang mengharuskan semua informasi yang akan didukung oleh bukti. Pengertian dari skeptis itu sendiri ialah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan).

Selasa, 12 April 2016



A.           Latar Belakang
Manajemen pendidikan merupakan suatu pengaturan atau pengelolaan pendidikan yang dilaksanakan dalam organisasi pendidikan dan untuk kepentingan pendidikan. Di dalam organisasi pendidikan, manajemen sangat diperlukan. Karena manajemen pendidikan mempunyai beberapa fungsi yang vital. Dan semua pihak yang terlibat di dalam organisasi pendidikan harus melaksanakan fungsi-fungsi ini sesuai dengan tugas masing-masing. Karena hal itulah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah manajemen pendidikan.
Fungsi-fungsi manajemen pendidikan diantaranya adalah fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi penggerakan (actuating), dan fungsi pemantauan, penilaian, pengawasan (monitoring, evaluating, controlling). Fungsi-fungsi tersebut saling berkaitan, sehingga jika ada yang tidak dilaksanakan satu saja, rasanya ada sesuatu yang hilang dari sebuah organisasi. Oleh karena itu, penjelasan tentang masing-masing fungsi manajemen pendidikan tersebut sangat penting. Dan di dalam makalah ini akan dibahas salah satu fungsi, yaitu fungsi penggerakan (actuating).



B.                 Rumusan Masalah
Berdasakan latar belakang di atas, dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari fungsi penggerakan?
2.      Apa saja prinsip-prinsip dari fungsi penggerakan?
3.      Apa tujuan dari fungsi penggerakan?
4.      Apa saja teknik-teknik fungsi penggerakan?
5.      Bagaimana langkah-langkah penggerakan yang efektif?

C.                Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian dari fungsi penggerakan dalam manajemen pendidikan.
2.      Mengetahui prinsip-prinsip dari fungsi penggerakan dalam manajemen pendidikan.
3.      Mengetahui tujuan dari fungsi penggerakan dalam manajemen pendidikan.
4.      Mengetahui teknik-teknik dari fungsi penggerakan dalam manajemen pendidikan.
5.      Mengetahui langkah penggerakan yang efektif dalam manajemen pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Penggerakan
                        Secara sederhana, penggerakan dapat diartikan sebagai usaha untuk menggerakan. Fungsi penggerakan diibaratkan seperti motor pada sebuah mesin. Jadi fungsi penggerakan akan menggerakan mesin-mesin agar bisa bekerja sesuai tugas masing-masing. Penggerakan (actuating) adalah tindakan untuk memulai, memprakarsai, memotivasi dan mengarahkan, serta mempengaruhi para pekerja mengerjakan tugas-tugas untuk mencapai tujuan organisasi. Penggerakan merupakan upaya untuk menggerakkan atau mengerahkan  man power  (tenaga kerja) serta mendayagunakan fasilitas yang ada.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penggerakan merupakan kegiatan menggerakan orang-orang yang ada di dalam sebuah organisasi agar mau bergerak dan bekerja untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisai.

B.                 Prinsip-prinsip Penggerakan
                                    Menurut Haris (2011) penggerakan yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip, yaitu:
1.      Prinsip mengarah pada tujuan
Tujuan pokok dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa makin efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan anggota terhadap usaha mencapai tujuan. Pengarahan tidak dapat berdiri sendiri, artinya dalam melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan/bantuan dari faktor-faktor lain, seperti perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan anggota.
2.      Prinsip keharmonisan dengan tujuan
Orang-orang bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang tidak mungkin sama dengan tujuan perusahaan. Mereka menghendaki demikian dengan harapan tidak terjadi penyimpangan yang  terlalu besar dan kebutuhan mereka dapat dijadikan sebagai pelengkap serta harmonis dengan kepentingan perusahaan. Semua ini dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang  baik akan mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang wajar. Sedang kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat bekerja dengan baik, dan pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi.
3.      Prinsip kesatuan komando
Prinsip kesatuan komando ini sangat penting untuk menyatukan arah tujuan dan tangggung jawab para bawahan. Jika para bawahan hanya memiliki satu jalur di dalam melaporkan segala kegiatannya. Dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja, maka pertentangan di dalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta semakin besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.

C.    Tujuan Penggerakan
                                    Penggerakan memiliki tujuan untuk mendorong dan menjuruskan pekerja agar mengerjakan tugas sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Merangsang anggota melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Menggerakkan merupakan kemampuan membujuk orang-orang mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dengan penuh semangat. Tujuan penggerakan atau actuating adalah:
·         Menciptakan kerja sama yang lebih efisien.
·         Mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf.
·         Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan.
·         Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf.
·         Membuat organisasi berkembang secara dinamis.

D.    Teknik-teknik Penggerakan
1.      Commmanding (memberi komando atau perintah): mengatur dan membuat staf untuk melakukan pekerjaan. Dalam memberi perintah seorang atasan tidak bisa seenaknya, tetapi harus memperhitungkan langkah-langkah dan resiko dari setiap langkah yang para atasan itu ambil karena setiap keputusan dan langkah akan memberi pengaruh bagi organisasi.
2.      Directing (memberi pengarahan): dilakukan dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk yang benar, jelas dan tegas. Segala saran-saran atau instruksi kepada staf dalam pelaksanaan tugas harus diberikan dengan jelas agar terlaksana dengan baik terarah kepada tujuan yang telah ditetapkan.
3.      Communcating (berkomunikasi): yaitu suatu proses di mana ide-ide ditransmisikan ke yang lain dengan tujuan untuk mencapai efektivitas kegiatan. Komunikasi antara para pimpinan dan karyawan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan menjalin komunikasi yang baik maka akan menimbulkan suasana kerja yang kondusif di perusahaan dan akan menumbuhkan teamwork atau kerjasama yang baik dalam berbagai kegiatan perusahaan.
4.      Stimulating (memberi stimulus atau rangsang): merangsang dan mempengaruhi anggota untuk melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik.
5.      Coordinating (mengkoordinir): mempersatukan dan mengkorelasikan semua aktivitas agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyelaraskan, dan menyatukan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerjasama yang terarah dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan itu, antara lain dengan memberi instruksi, perintah, mengadakan pertemuan untuk memberikan penjelasan bimbingan atau nasihat, dan mengadakan coaching atau pelatihan dan bila perlu memberi teguran.
6.      Leading (memimpin): pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer yang menyebabkan orang lain bertindak. Pekerjaan leading, meliputi:
1.      Mengambil keputusan.
2.      Mengadakan komunikasi agar ada saling pegertian antara manajer dan bawahan.
3.      Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
4.      Memilih orang-orang yang menjadi anggota.
5.      Memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
7.      Motivating (memotivasi): memberikan semangat, motivasi, inspirasi, atau dorongan sehingga timbul kesadaran dan kemauan para pekerja untuk bekerja secara sukarela sesuai apa yang dikehendaki oleh atasan. Pemberian inspirasi, semangat dan dorongan oleh atasan kepada bawahan ditunjukan agar bawahan bertambah kegiatannya, atau mereka lebih bersemangat melaksanakan tugas-tugas sehingga mereka berdaya guna dan berhasil guna.

E.     Langkah-langkah Penggerakan yang Efektif
                                    Langkah-langkah penggerakan harus dilakukan dengan cara yang efektif agar diperoleh hasil yang maksimal. Langkah-langkah penggerakan yang efektif mencakup beberapa hal, yaitu:
a.       Memberikan penjelasan kepada setiap orang yang ada dalam organisasi, yaitu penjelasan mengenai tujuan yang harus dicapai.
b.      Setiap orang harus menyadari, memahami serta menerima dengan baik tujuan tersebut.
c.       Menjelaskan mengenai filsafat dari organisasi.
d.      Pimpinan menjelaskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditempuh oleh organisasi dalam usaha pencapaian tujuan.
e.       Setiap orang harus mengerti struktur organisasi.
f.       Setiap orang  harus menjalankan peranan apa yang diharapkan oleh pimpinan organisasi dengan baik. Sehingga peranan dan fungsi setiap orang harus jelas.
g.      Menekankan pentingnya kerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan.
h.      Memperlakukan setiap bawahan sebagai manusia dengan penuh pengertian.
i.        Memberikan penghargaan serta pujian kepada pegawai yang cakap dan teguran serta bimbingan kepada orang-orang yang kurang mampu bekerja.
j.        Meyakinkan setiap orang bahwa dengan bekerja baik dalam organisasi tujuan pribadi orang-orang tersebut akan tercapai semaksimal mungkin.
Sedangkan menurut Haris (2011) langkah-langkah penggerakan yang efektif bagi manajemen sekolah antara lain:
a.       Kepala sekolah merangsang guru dan personal sekolah lainnya untuk melaksanakan tugas dengan antusias dan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan dengan penuh semangat.
b.      Kepala sekolah cenderung mempunyai hubungan dengan bawahan yang sifatnya mendukung (suportif) dan meningkatkan rasa percaya diri menggunakan kelompok membuat keputusan.
c.       Kepala sekolah merencanakan cara untuk memungkinkan guru, tenaga kependidikan dan personal sekolah lainnya secara teratur mempelajari seberapa baik ia telah memenuhi tujuan sekolah yang spesifik dapat meningkatkan mutu sekolah.
d.      Penggerakan yang dilakukan kepala sekolah tersebut dapat berupa pengakuan dan pujian atas prestasi kerja personal sekolah, karena ancaman atas kesalahan yang dilakukan oleh para personalnya hanya akan berdampak buruk terhadap manajemen sekolah.
e.       Sanksi hanya akan diberikan, jika betul-betul ada bukti dan tidak mungkin lagi untuk dibina, jauh efisien membentuk perilaku guru, tenaga kependidikan, dan personal sekolah lainnya dengan menghargai hasil yang positif dan memberi motivasi ke arah yang positif pula.












BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Fungsi penggerakan merupakan kegiatan menggerakan orang-orang yang ada di dalam sebuah organisasi agar mau bergerak dan bekerja untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisai. Prinsip-prinsip yang dijadikan pegangan fungsi penggerakan antara lain:
·         Prinsip mengarah pada tujuan
·         Prinsip keharomnisan dengan tujuan
·         Prinsip kesatuan komando
Penggerakan memiliki tujuan untuk mendorong dan menjuruskan pekerja agar mengerjakan tugas sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan serta merangsang anggota melaksanakan tugas dengan antusias dan kemauan yang baik. Teknik penggerakan antara lain:
1.      Commmanding (memberi komando atau perintah)
2.      Directing (memberi pengarahan)
3.      Communcating (berkomunikasi)
4.      Stimulating (memberi stimulus atau rangsang)
5.      Coordinating (mengkoordinir)
6.      Leading (memimpin)
7.      Motivating (memotivasi)
Fungsi penggerakan harus dilakukan dengan langkah-langkah penggerakan yang efektif agar diperoleh hasil yang maksimal. Selain itu, juga agar visi, misi, dan tujuan tetap dapat dicapai.



B.                Saran
1.      Sebagai seorang pemimpin yang profesional, hendaknya bisa menggerakan semua komponen maupun elemen dan melibatkan semua pihak yang terdapat dalam organisasi yang dipimpin.
2.      Sebagai seorang bawahan, juga harus ikut berpartisipasi aktif untuk melaksanakan fungsi penggerakan (actuating).
3.      Antara pemimpin dan bawahan harus ada kerjasama dan persatuan untuk melaksanakan fungsi penggerakan (actuating) agar tujuan dan visi, misi organisasi bisa terwujud.















DAFTAR RUJUKAN

Sagala Syaiful, H. 2012. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta.
Kurniadin, D. & Machali, I. 2012. Manajemen Pendidikan (Konsep dan Prinsip Pengelolaaan Pendidikan). Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Soepardi, Imam. 1988. Dasar-dasar Administrasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
http://machdans-manajemen.blogspot.com/2011/06/actuating.html