ALIRAN-ALIRAN
FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DAN KONSTEKSTUALISME
A.
FILSAFAT
KONSTRUKTIVISME
1.
Pengertian
Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan
yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri
(Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994). Von Glasersfeld
menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Maka
pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan
manusia yang berkonstruksi dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya.
Berbicara
tentang konstrukstivisme tidak dapat lepas dari peran Piaget J. Piaget. Piaget
adalah orang pertama yang menggunakan
filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. . Teori pengetahuan Piaget adalah
teori adaptasi kognitif. Seperti setiap organisme selalu beradaptasi dengan
lingkungannya untuk dapat mempertahankan dan memperkembangkan hidup, demikian
juga struktur pemikiran manusia. Berhadapan dengan pengalaman, tantangan,
gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai seseorang ditantang untuk
menanggapinya. Dan dalam menanggapi pengalaman-pengalaman baru itu skema
pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah total.
Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik pengalaman fisis
maupun pengalaman mental.
2. Jenis-jenis
Konstruktivisme
Von Glasersfeld membedakan adanya tiga taraf
konstruktivisme :
· Konstruktivisme radikal
Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang
yang mengetahui, maka tidak dapat ditransfer kepada penerima yang pasif.
Penerima sendiri yang harus mengkontruksi pengetahuan itu. Semua yang lain,
entah objek maupun lingkungan, hanyalah sarana untuk terjadinya konstruksi
tersebut.
·
Realisme Hipotesis
Pengetahuan dipandang sebagai suatu hipotesis dari
suatu struktur kenyataandan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati
yang dekat dengan realitas (Manuvar, 1981 dalam Bettencourt, 1989).
·
Konstrutivisme yang Biasa
Aliran ini tidak mengambil semua konsekuensi
konstruktivisme. Menurut aliran ini pengetahuan merupakan gamaran dari
realitas. Pengetahun dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari
kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.
3. Hubungan
Konstruktivisme dengan Beberapa Teori
Belajar
·
Teori Perubahan Konsep
Dalam banyak penelitian
diungkapkan bahwa teori perubahan konsep dipengaruhi oleh filsafat
konstruktivisme. Konstruktivisme, yang
menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar, dan teori
perubahan konsep yang menjelaskan, bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus
menerus sangat berperan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah
mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari. Konstruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana
siswa pengetahuan yang tidak tepat. Dengan demikian, seorang pendidik dibantu
untuk mengarahkan siswa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat.
·
Teori Belajar Menurut Ausubel
Teori belajar bermakna Ausuabel ini sangat dekat
dengan inti pokok konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar
mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam system
pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi
pengalaman baru ke dalam konsepatau pengertian yang sudah dipunyai siswa.
Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
·
Teori Skema
Teori skema lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita
itu tersusun dalam suatu skema yang terletak dalam ingatan kita. Dalam
belajar kita dapat menambah atau
mengubah skema yang ada sehingga dapat menjadi lebih luas dan berkembang.
4. Pengaruh
Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan
Sebenarnya prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak
digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip
itu berperan sebagai referensi dan alat refleksi kritis terhadap praktek,
pembaruan dan perencanaan pendidikan sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang
diambil dari konstruktivisme adalah :
a. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif.
b. Tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik.
c. Mengajar adalah membantu peserta didik belajar.
d. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil.
e. Kurikulum menekankan partisipasi peserta didik.
f. Guru adalah fasilitator.
Berkaitan dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Indonesia yang memberikan kewenangan kepada sekolah dan para guru untuk menyusun sendiri kurikulum pembelajaran yang akan dijalankan, prinsip-prinsip konstruktivisme tentu dapat menjadi roh dari setiap silabus yang disusunnya. Hal yang tetap harus diperhatikan adalah kesiapan lingkungan belajar, baik pendidik, lingkungan, sarana prasarana dan pendukung lainnya. Jika hal-hal tersebut tidak dipersiapkan dengan baik, bisa jadi terjadi hal-hal yang melenceng dari harapan. Karena peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksinya tidak sesuai dengan hasil konstruksi para ilmuwan, maka muncullah salah pengertian atau konsep alternative. Dalam hal seperti ini diperlukan penelusuran dan penelitian untuk menemukan permasalahan dan mengatasinya.
a. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif.
b. Tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik.
c. Mengajar adalah membantu peserta didik belajar.
d. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil.
e. Kurikulum menekankan partisipasi peserta didik.
f. Guru adalah fasilitator.
Berkaitan dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Indonesia yang memberikan kewenangan kepada sekolah dan para guru untuk menyusun sendiri kurikulum pembelajaran yang akan dijalankan, prinsip-prinsip konstruktivisme tentu dapat menjadi roh dari setiap silabus yang disusunnya. Hal yang tetap harus diperhatikan adalah kesiapan lingkungan belajar, baik pendidik, lingkungan, sarana prasarana dan pendukung lainnya. Jika hal-hal tersebut tidak dipersiapkan dengan baik, bisa jadi terjadi hal-hal yang melenceng dari harapan. Karena peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksinya tidak sesuai dengan hasil konstruksi para ilmuwan, maka muncullah salah pengertian atau konsep alternative. Dalam hal seperti ini diperlukan penelusuran dan penelitian untuk menemukan permasalahan dan mengatasinya.
B. KONTEKSTUALISME
Konteks
sebagai kata dasar kontekstualisme yang juga kata serapan, diartikan di kamus
sebagai bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan
makna, situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Sedangkan
kontekstualisme itu sendiri dimaknai sebagai, aliran yang menyelidiki makna
dalam bahasa dengan metode probabilitas dan memusatkan diri pada distribusi
formal bentuk bahasa, ujaran, dan hubungan antaran ujaran atau wacana dan
lingkungan fisik dan sosial.
Kontekstualisme
dalam epistemologis adalah suatu paham dalam filsafat pengetahuan. Paham ini
beranggapan bahwa kebenaran dari sebuah pernyataan tergantung dari konteks mana
dia dinyatakan. Sifat
kontekstual tidak mutlak karena sangat tergantung pada subjek yang melihat,
situasi dan kondisi saat ini. Kontekstualisme dalam pengetahuan merupakan
argumen yang baik untuk menghadang argumen skeptis.
Pertama kita
harus mengenal mengenai skeptisisme. Skeptisisme filosofis adalah pendekatan
keseluruhan yang mengharuskan semua informasi yang akan didukung oleh bukti. Pengertian dari skeptis itu sendiri
ialah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan,
mencurigakan).