Jumat, 22 April 2016



ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DAN KONSTEKSTUALISME

A.    FILSAFAT KONSTRUKTIVISME
1.      Pengertian Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994). Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang berkonstruksi dari pengalaman atau dunia sejauh dialaminya.
            Berbicara tentang konstrukstivisme tidak dapat lepas dari peran Piaget J. Piaget. Piaget adalah  orang pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. . Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Seperti setiap organisme selalu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat mempertahankan dan memperkembangkan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Berhadapan dengan pengalaman, tantangan, gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai seseorang ditantang untuk menanggapinya. Dan dalam menanggapi pengalaman-pengalaman baru itu skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah total. Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik pengalaman fisis maupun pengalaman mental.
2.      Jenis-jenis Konstruktivisme
Von Glasersfeld membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme :
·      Konstruktivisme radikal
Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari seseorang yang mengetahui, maka tidak dapat ditransfer kepada penerima yang pasif. Penerima sendiri yang harus mengkontruksi pengetahuan itu. Semua yang lain, entah objek maupun lingkungan, hanyalah sarana untuk terjadinya konstruksi tersebut.
·         Realisme Hipotesis
Pengetahuan dipandang sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataandan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas (Manuvar, 1981 dalam Bettencourt, 1989).
·         Konstrutivisme yang Biasa
Aliran ini tidak mengambil semua konsekuensi konstruktivisme. Menurut aliran ini pengetahuan merupakan gamaran dari realitas. Pengetahun dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek dalam dirinya sendiri.
3.      Hubungan Konstruktivisme dengan Beberapa Teori  Belajar
·         Teori Perubahan Konsep
             Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori perubahan konsep dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme.  Konstruktivisme, yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar, dan teori perubahan konsep yang menjelaskan, bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus menerus sangat berperan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari.  Konstruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa pengetahuan yang tidak tepat. Dengan demikian, seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan siswa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat.
·         Teori Belajar Menurut Ausubel
Teori belajar bermakna Ausuabel ini sangat dekat dengan inti pokok konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam system pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsepatau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
·         Teori Skema
Teori skema lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita itu tersusun dalam suatu skema yang terletak dalam ingatan kita. Dalam belajar  kita dapat menambah atau mengubah skema yang ada sehingga dapat menjadi lebih luas dan berkembang.
4.      Pengaruh Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan
Sebenarnya prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip itu berperan sebagai referensi dan alat refleksi kritis terhadap praktek, pembaruan dan perencanaan pendidikan sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang diambil dari konstruktivisme adalah :
a. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif.
b. Tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik.
c. Mengajar adalah membantu peserta didik belajar.
d. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil.
e. Kurikulum menekankan partisipasi peserta didik.
f. Guru adalah fasilitator.
        Berkaitan dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Indonesia yang memberikan kewenangan kepada sekolah dan para guru untuk menyusun sendiri kurikulum pembelajaran yang akan dijalankan, prinsip-prinsip konstruktivisme tentu dapat menjadi roh dari setiap silabus yang disusunnya. Hal yang tetap harus diperhatikan adalah kesiapan lingkungan belajar, baik pendidik, lingkungan, sarana prasarana dan pendukung lainnya. Jika hal-hal tersebut tidak dipersiapkan dengan baik, bisa jadi terjadi hal-hal yang melenceng dari harapan. Karena peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksinya tidak sesuai dengan hasil konstruksi para ilmuwan, maka muncullah salah pengertian atau konsep alternative. Dalam hal seperti ini diperlukan penelusuran dan penelitian untuk menemukan permasalahan dan mengatasinya.






B.     KONTEKSTUALISME

Konteks sebagai kata dasar kontekstualisme yang juga kata serapan, diartikan di kamus sebagai bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna, situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.  Sedangkan kontekstualisme itu sendiri dimaknai sebagai, aliran yang menyelidiki makna dalam bahasa dengan metode probabilitas dan memusatkan diri pada distribusi formal bentuk bahasa, ujaran, dan hubungan antaran ujaran atau wacana dan lingkungan fisik dan sosial.
Kontekstualisme dalam epistemologis adalah suatu paham dalam filsafat pengetahuan. Paham ini beranggapan bahwa kebenaran dari sebuah pernyataan tergantung dari konteks mana dia dinyatakan. Sifat kontekstual tidak mutlak karena sangat tergantung pada subjek yang melihat, situasi dan kondisi saat ini. Kontekstualisme dalam pengetahuan merupakan argumen yang baik untuk menghadang argumen skeptis.
Pertama kita harus mengenal mengenai skeptisisme. Skeptisisme filosofis adalah pendekatan keseluruhan yang mengharuskan semua informasi yang akan didukung oleh bukti. Pengertian dari skeptis itu sendiri ialah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar