Tipe
atau Gaya Supervisi Pendidikan
Dalam melakukan tugas
supervisi, supervisor seyogianya mempelajari tipe dan gaya supervisi. Tentu,
tipe ini disesuaikan dengan lokalitas. Tipe atua gaya supervisi dibedakan
menjadi lima, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Tipe
autokratis
Supervisor
autokratis menganggap bahwa fungsinya sebagai penentu segala kebijakan yang
harus dijalankan dan cara menjalankannya. Selanjutnya, ia mengawasi pelaksanaan
kebijakannya oleh bawahan. Tipe ini mirip dengan inspeksi. Otoritas mutlak ada
di pihak supervisor.
2.
Tipe
demokratis
Supervisor
pada tipe ini melaksanakan fungsinya secara konsekuen dengan fungsi supervisi
yang sebenarnya. Fungsi tersebut adalah membina dalam arti yang
semurni-murninya. Otoritas supervisor seimbang dengan otoritas pihak yang
disupervisi.
3.
Tipe
Pseudo atau Quasi Demokratis (Demokratis Semu)
Dalam
praktiknya, sering terdapat supervisor yang berbuat. Seolah-olah ia demokratis
dengan mengadakan rapat untuk memusyawarakan sebuah problem. Tetapi dalam rapat
ia memaksakan rencana dan keinginannya agar diikuti oleh bawahan dengan cara
atau muslihat yang halus dan licin.
4.
Tipe
Manipulasi Diplomatis
Supervisor
melaksanakan prinsip demokratis, seperti mengadakan rapat atau musyawarah
tetapi dengan kelihaiannya ia berusaha menggiring pikiran seluruh peserta rapat
agar dapat menyetujui kehendaknya.
5.
Tipe
Laissez-faire
Supervisor
menginterpretasikan demokrasi dengan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada
bawahan. Sehingga, supervisor kehilangan otoritasnya. Supervisor menyerahkan
atau mempercayai bawahannya untuk mengambil keputusan.
Pada dasarnya tidak ada
supervisor yang secara mutlak menggunakan salah satu dari tipe-tipe tersebut.
Tetapi, sesuai dengan situasi dan kondisi atau permasalahan yang dihadapi maka
supervisor cenderung berbaur. Fleksibilitas sangat penting diterapkan supaya
organisasi berjalan dengan baik, kolektif, dan penuh rasa kekeluargaan.
Fleksibilitas ini merupakan indikator bahwa supervisor benar-benar memahami
masalah yang ada di lapangan, sehingga pendekatan yang digunakan menjadi
relevan dan kontekstual karena mampu menyelesaikan masalah dan membawa
perubahan besar dalam dinamika organisasi sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar