Minggu, 26 April 2015

Tipe atau Gaya Supervisi Pendidikan



Tipe atau Gaya Supervisi Pendidikan

Dalam melakukan tugas supervisi, supervisor seyogianya mempelajari tipe dan gaya supervisi. Tentu, tipe ini disesuaikan dengan lokalitas. Tipe atua gaya supervisi dibedakan menjadi lima, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Tipe autokratis
Supervisor autokratis menganggap bahwa fungsinya sebagai penentu segala kebijakan yang harus dijalankan dan cara menjalankannya. Selanjutnya, ia mengawasi pelaksanaan kebijakannya oleh bawahan. Tipe ini mirip dengan inspeksi. Otoritas mutlak ada di pihak supervisor.
2.      Tipe demokratis
Supervisor pada tipe ini melaksanakan fungsinya secara konsekuen dengan fungsi supervisi yang sebenarnya. Fungsi tersebut adalah membina dalam arti yang semurni-murninya. Otoritas supervisor seimbang dengan otoritas pihak yang disupervisi.
3.      Tipe Pseudo atau Quasi Demokratis (Demokratis Semu)
Dalam praktiknya, sering terdapat supervisor yang berbuat. Seolah-olah ia demokratis dengan mengadakan rapat untuk memusyawarakan sebuah problem. Tetapi dalam rapat ia memaksakan rencana dan keinginannya agar diikuti oleh bawahan dengan cara atau muslihat yang halus dan licin.
4.      Tipe Manipulasi Diplomatis
Supervisor melaksanakan prinsip demokratis, seperti mengadakan rapat atau musyawarah tetapi dengan kelihaiannya ia berusaha menggiring pikiran seluruh peserta rapat agar dapat menyetujui kehendaknya.
5.      Tipe Laissez-faire
Supervisor menginterpretasikan demokrasi dengan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan. Sehingga, supervisor kehilangan otoritasnya. Supervisor menyerahkan atau mempercayai bawahannya untuk mengambil keputusan.
Pada dasarnya tidak ada supervisor yang secara mutlak menggunakan salah satu dari tipe-tipe tersebut. Tetapi, sesuai dengan situasi dan kondisi atau permasalahan yang dihadapi maka supervisor cenderung berbaur. Fleksibilitas sangat penting diterapkan supaya organisasi berjalan dengan baik, kolektif, dan penuh rasa kekeluargaan. Fleksibilitas ini merupakan indikator bahwa supervisor benar-benar memahami masalah yang ada di lapangan, sehingga pendekatan yang digunakan menjadi relevan dan kontekstual karena mampu menyelesaikan masalah dan membawa perubahan besar dalam dinamika organisasi sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar